Kebutuhan akan akses internet membuka peluang usaha bagi banyak orang. Walau banyak provider yang menawarkan paket berlangganan internet, nyatanya tidak semua mampu menjangkau. Karena itu, wajanbolik bisa menjadi alternatif internetan murah meriah.
Akses internet menjadi sesuatu yang penting bagi sebagian orang. Terlebih lagi, dengan booming situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter. Untuk bisa mendapatkan akses dunia maya, masyarakat bisa menggunakan pelbagai fasilitas, semisal modem, Wi-Fi, dan jaringan telepon.
Booming internet inilah yang membuat Putra Wawan tertarik memproduksi wajanbolik pada 2009 lalu bersama temannya. Ia melihat pembuatan wajanbolik bisa menjadi peluang usaha yang kreatif, apalagi bahan baku yang diperlukan untuk pembuatannya cukup mudah dan murah.
Wajanbolik adalah alat penguat sinyal wireless agar koneksi internet bisa lebih kencang lagi. "Meskipun terbuat dari bahan yang sederhana, fungsinya cukup efektif," kata Wawan.
Wajanbolik ciptaan Wawan bekerja pada frekuensi sampai dengan 2,4 Giga Hertz (Ghz). Jangkauan alat ini juga cukup luas bisa mencapai 5 kilometer. "Murah, jangkauan luas dan pemasangan sangat mudah," ujarnya.
Untuk menggunakannya, wajanbolik cukup dicolokkan ke port USB komputer atau laptop. Bahkan, menurut Wawan, wajanbolik lebih unggul dibandingkan dengan modem. Sebab, sistem jaringan wireless LAN dengan wajanbolik membuat akses internet lebih cepat ketimbang modem.
Keunggulan lainnya adalah alat ini bisa dipakai oleh beberapa personal computer (PC) sekaligus. "Kuncinya terletak pada PC yang akan ditunjuk sebagai server. Harus ada satu port LAN atau LAN card," imbuh dia.
CPU atau laptop terkini, biasanya sudah memenuhi spesifikasi tersebut. Kalau pun tidak ada, cukup menambah LAN internal yang harganya rata-rata Rp 60.000 per unit. Selain itu, perlu juga disediakan satu LAN switch dengan jumlah port yang mencukupi, agar wajanbolik bisa digunakan lebih dari satu PC.
Untuk memudahkan konsumen, Wawan juga menyediakan panduan pemasangan berbentuk compact disc (CD). "Buku panduan pemasangan juga ada," katanya. Agar bisa menjangkau daerah yang luas, wajanbolik harus dipasang sesuai tipe lokasi, seperti dengan meletakkan alat ini di tempat yang tinggi.
Pengguna wajanbolic tidak perlu cemas dengan kondisi cuaca. Sebab, hujan atau angin kencang tidak akan mengganggu koneksi internet. Perangkat elektronik dan USB diletakkan di dalam frame sehingga tersembunyi dan terlindung dari air dan angin.
Dengan statusnya yang masih mahasiswa, Wawan mengaku cukup mendapatkan banyak penghasilan dari bisnisnya ini. Apalagi permintaan wajanbolic selalu meningkat. Dengan mengandalkan situs www.wajanbolik.com, Wawan berhasil mendapat pesanan sampai 20 unit dari seluruh Indonesia setiap minggunya.
Dengan harga mulai Rp 250.000 hingga Rp 350.000, dia mampu meraih omzet Rp 6 juta seminggu. Tak hanya datang dari perseorangan, Wawan juga menerima banyak pesanan dari instansi-instansi pemerintahan, perumahan, hingga institusi pendidikan.
Sutedy juga memproduksi wajanbolic. Ia bersama tiga kawannya, selain mengandalkan pesanan dari warga di kawasan perumahan Galuh Mas, Karawang, Jawa Barat, juga dari daerah lain. Dari perumahan ini, ia minimal mendapat pesanan 5 unit setiap bulan. Sedangkan, permintaan dari luar warga perumahan bisa mencapai 8 hingga 15 unit per bulan.
Sutedy membanderol wajanbolic bikinannya seharga Rp 240.000 per unit. "Pesanan datang dari Tangerang, Sulawesi, dan Kalimantan," ujarnya.
Untuk membuat produk ini, Sutedy memakai wajan berdiameter 14 cm-15 cm. Semakin besar diameter wajan, semakin bagus frekuensi yang ditangkap. Batasan sinyal yang boleh ditangkap wajanbolic adalah 2.4 GHz. Frekuensi tersebut sangat rendah sehingga tidak mengganggu frekuensi-frekuensi lainnya.
Selain wajan, bahan lain yang dibutuhkan adalah pipa PVC, aluminium foil, dok pipa PVC, baut dan mur, serta USB wireless dan kabel. "Bisa juga dimodifikasi dengan radio resistor. Saya banyak belajar dari dunia maya," kata Sutedy.
Beraneka modifikasi bisa dilakukan untuk meningkatkan kekuatan sinyal yang mampu ditangkap. Sutedy menjelaskan, wajan jadi penampang resistor alternatif yang murah untuk menangkap sinyal Wi-Fi.
Di luar negeri ada pula perangkat semacam wajanbolik. Namun, teknologi yang dipakai menggunakan pElat panel berbentuk kotak. Harga pelat tersebut lebih mahal dibandingkan dengan wajan, bisa mencapai Rp 40.000 hingga Rp 60.000. Adapun wajan hanya Rp 18.000 sampai Rp 28.000 dan banyak dijual di pasar-pasar.
Selain menangkap sinyal Wi-Fi, wajanbolik juga bisa digunakan untuk modem. "Kebutuhan akses internet sangat besar, makanya permintaan produk ini meningkat," kata Sutedy. Produk ini, Sutedy menuturkan, memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lapisan ekonomi ke menengah bawah untuk mengakses internet.
Walaupun banyak operator telekomunikasi yang menawarkan paket internet, sering tidak terjangkau seluruh lapisan masyarakat. "Kami mencari solusi agar bisa dibuat perangkat dengan bujet murah, sehingga orang dengan mudah mengakses internet," papar Sutedy.
Ia mengaku banyak belajar dari pakar teknologi informasi seperti Onno Widodo Purbo, yang memiliki pemikiran semua ilmu harus dibagi untuk seluruh golongan, termasuk masyarakat ekonomi bawah.
sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1302678579/64780/Menangkap-laba-dari-bisnis-wajanbolik
Kamis, 14 April 2011
Kamis, 07 April 2011
Self Responsible
Bertanggung jawab terhadap diri sendiri merupakan syarat mutlak untuk menjadi seorang pengusaha.
Tidak gampang. Dimulai dari hal kecil, seperti misalnya bangun pagi.
Banyak orang merasa bahwa menjadi pengusaha itu sama dengan menjadi bos atau tukang perintah. Ini jelas salah kaprah!
Apalagi bila membayangkan bahwa memiliki usaha sendiri itu artinya tanggung jawab lebih ringan, atau usaha yang dilakukan lebih sedikit daripada menjadi karyawan.
Justru sebaliknya, menjadi pengusaha artinya usaha Anda harus 2x lipat lebih keras ketimbang Anda menjadi karyawan, karena Anda sendiri lah yang bertanggung jawab akan income Anda dan kelangsungan hidup perusahaan.
Tidak gampang. Dimulai dari hal kecil, seperti misalnya bangun pagi.
Banyak orang merasa bahwa menjadi pengusaha itu sama dengan menjadi bos atau tukang perintah. Ini jelas salah kaprah!
Apalagi bila membayangkan bahwa memiliki usaha sendiri itu artinya tanggung jawab lebih ringan, atau usaha yang dilakukan lebih sedikit daripada menjadi karyawan.
Justru sebaliknya, menjadi pengusaha artinya usaha Anda harus 2x lipat lebih keras ketimbang Anda menjadi karyawan, karena Anda sendiri lah yang bertanggung jawab akan income Anda dan kelangsungan hidup perusahaan.
Kamis, 31 Maret 2011
Being Creative
Apa sih rahasia para pengusaha? Kadang kita sering menemukan banyak pengusaha kawakan yang memulai usaha dengan modal dengkul, alias dengan modal Rp 0,-. Kok bisa?
Kreatif adalah kuncinya. Bukan menjadi faktor yang paling utama dan satu-satunya, tapi menjadi kreatif adalah keahlian yang harus diasah setiap harinya.
Mungkin semua orang sudah bosan mendengar kata "kreatif" karena ujung-ujungnya banyak juga yang terpentok usahanya karena masalah permodalan yang minim atau seret.
Kreatif ini justru harus diimbangi dengan kemampuan lainnya, misalnya finance, marketing dan juga dengan nilai2 lainnya.
Sama saja seperti anak sekolah, kreatifitas itu sangat penting dan seringkali modalnya hanya kertas dan crayon untuk menjadikan lukisan yang indah.
Jadi mulailah berlatih untuk menjadi kreatif dari hal kecil.
Kreatif adalah kuncinya. Bukan menjadi faktor yang paling utama dan satu-satunya, tapi menjadi kreatif adalah keahlian yang harus diasah setiap harinya.
Mungkin semua orang sudah bosan mendengar kata "kreatif" karena ujung-ujungnya banyak juga yang terpentok usahanya karena masalah permodalan yang minim atau seret.
Kreatif ini justru harus diimbangi dengan kemampuan lainnya, misalnya finance, marketing dan juga dengan nilai2 lainnya.
Sama saja seperti anak sekolah, kreatifitas itu sangat penting dan seringkali modalnya hanya kertas dan crayon untuk menjadikan lukisan yang indah.
Jadi mulailah berlatih untuk menjadi kreatif dari hal kecil.
Selasa, 15 Maret 2011
Mengganti plastik dengan kulit jagung

Kulit jagung juga bisa menjadi bahan baku pengganti plastik. Mohamad Fasiol menggunakannya sebagai bahan baku dalam pembuatan gelas dan botol. Selain kualitasnya tak kalah dengan bahan plastik, gelas atau botol bekas itu bisa diserap tanah dan menjadi pupuk.
Permintaan gelas plastik terus meningkat dari tahun ke tahun. Maklum, banyak produk barang-barang konsumsi yang menggunakan plastik sebagai bungkusnya.
Tengok saja, setiap gerai dari jenis booth hingga restoran yang menyediakan minuman soda, teh, kopi, maupun sirup, memakai gelas plastik sebagai wadah.
Namun, tanpa disadari, proses pembuatan gelas dari plastik ini bisa menghasilkan limbah berbahaya. Begitu juga sampah yang dihasilkan dari gelas plastik lantaran tak bisa didaur ulang tanah.
Asal tahu saja, 10.000 gelas plastik berukuran 240 mililiter bisa membuat tumpukan sampah 2 m³-3 m³. Meski daur ulang plastik banyak dilakukan, tak semua sampah plastik itu bisa diolah kembali.
Mohamad Faisol, pemilik Mitradata Plastic Packaging, produsen plastik di Surabaya, Jawa Timur, menyadari betul dampak negatif tersebut. Karena itulah, dia mencoba bahan baku alternatif pengganti plastik, yakni kulit jagung dan biji ketela.
Menurutnya, kedua bahan tersebut sangat cocok karena memiliki serat yang cukup kuat. "Sebenarnya banyak sekali bahan yang bisa dipakai, namun yang ekonomis dan tersedia dalam jumlah banyak adalah kulit jagung," katanya.
Faisol mulai membuat gelas dari kulit jagung sejak tiga tahun silam. Namun, lanjutnya, peminat gelas dari kulit jagung masih minim. Maklum, harga gelas kulit jagung lebih mahal ketimbang gelas plastik.
Satu gelas dari kulit jagung berukuran 10 gram berharga Rp 600, sedangkan bandrol gelas plastik hanya Rp 250. "Harga gelas kulit jagung belum bisa bersaing," katanya.
Alhasil, meski Faisol sudah mencoba memasarkan ke berbagai pihak, respon konsumen masih minim. "Saya baru memasarkan 5.000 gelas," ujarnya. Artinya, dia hanya mendapatkan pemasukan sekitar Rp 3 juta dari gelas kulit jagung itu.
Lain halnya dengan gelas berbahan plastik. Sebagai produsen gelas plastik, dia bisa menjual sekitar satu juta gelas setiap bulan. Omzet dari penjualan gelas plastik tersebut mencapai Rp 250 juta setiap bulan. "Pembelinya 80% produsen minuman teh," kata Faisol.
Pembuatan tiga pekan
Untuk mempromosikan gelas kulit jagungnya, Fasiol menyebarkan contoh ke sebagian besar produsen consumer goods. Mulai dari yang skala kecil hingga berskala multinasional. Bahkan, produk sampel itu tak hanya berupa gelas, tapi juga berbentuk botol. "Saya juga menawarkan dalam bentuk setengah jadi ke produsen boneka. Biar mereka mengolah sendiri," tuturnya.
Kualitas gelas maupun botol dari kulit jagung tidak kalah bagus dengan gelas yang terbuat dari plastik. Selain antibocor, penampilan gelas dari kulit jagung ini juga menawan. Karena, sisi luar gelas tetap bisa didesain atau dibubuhi merek-merek tertentu dengan cara di-print alias dicetak.
Hanya, proses pembuatan gelasnya membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar tiga pekan. Pasalnya, kulit jagung harus melalui beberapa tahapan proses. Mulai dari dihancurkan hingga menjadi biji kulit jagung yang sama seperti biji plastik. "Kalau sudah menjadi biji seperti biji plastik proses pembuatannya sama seperti gelas plastik," katanya.
Tak hanya proses pembuatan yang mirip, mesin yang digunakan pun sama seperti mesin pembuat gelas plastik. Yang paling penting, ketika menjadi sampah, gelas dari kulit jagung bisa diserap tanah dan menjadi pupuk.
Menurut Faisol, di negara lain, terutama di negara maju, sebagian besar produsen consumer goods sudah beralih menggunakan kulit jagung sebagai pengganti plastik. Bahkan, lanjut dia, Taiwan sudah mulai menggunakan kulit jagung untuk membuat gelas plastik. "Gelas kulit jagung Taiwan sudah diekspor ke Amerika," katanya.
Fasiol berharap produsen consumer goods di negeri ini juga mulai mau menggunakan alternatif pengganti selain plastik. Semakin cepat, tentu akan kian baik.
sumber http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1282793061/45477/Mengganti-plastik-dengan-kulit-jagung
Elias mengubah Flores yang tandus jadi lahan pertanian jarak

Melalui tangan Elias Tona Moning sebagian wilayah di Flores Tengah yang terkenal tandus, berubah menjadi lahan pertanian jarak. Dengan menggandeng warga di sejumlah desa di Kabupaten Sika melalui sistem bagi hasil, doktor dari University of Massachusetts ini memproduksi minyak jarak untuk dijual ke perusahaan-perusahaan besar di Indonesia.
Flores selama ini terkenal sebagai daerah yang sangat kering dengan curah hujan yang sangat rendah. Khususnya di bagian tengah pulau tersebut, yang masuk Kabupaten Sika. Curah hujan di wilayah ini hanya 268 mm setahun. Tak heran, lahan di kawasan tersebut sangat sulit untuk ditanami.
Namun, Elias Tana Moning mampu menggerakkan masyarakat sekitarnya untuk mengubah daerah tandus tersebut menjadi ladang jarak yang bisa mendongkrak taraf hidup penduduk di sana.
sumber http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1290154804/52753/Elias-mengubah-Flores-yang-tandus-jadi-lahan-pertanian-jarak
Tanaman bernama latin Jathropa curcas ini memang mampu tumbuh dan bertahan di daerah tandus. "Apalagi, banyak lahan kosong di Flores yang pemanfaatannya belum optimal," ujarnya.
Melalui Outreach International Bioenergy, sejak 2007 lalu, Elias merangkul warga berbasis desa atau paroki gereja untuk memanfaatkan lahan mereka, dengan bercocok tanam jarak. "Sosialisasinya lumayan sulit, karena tanaman ini kurang familiar," ungkap dia.
Yang pertama kali berminat menanam jarak adalah penduduk Desa Nawateu. Tapi, belakangan mereka membatalkannya setelah ada tawaran Program Gerakan Menanam Lahan yang datang satu bulan setelah program menanam jarak Elias. Maklum, program Kementerian Kehutanan itu cukup menggiurkan. Warga desa tidak cuma mendapatkan bibit pohon, tapi juga uang.
Tapi akhirnya, Gerakan Menanam Lahan tak berjalan. Sebab, bibit diberikan pada saat yang tidak tepat, yakni pada musim kemarau. "Akibatnya, uang diambil oleh para petani, namun bibit dibiarkan begitu saja, tidak ditanam," ungkap Elias.
Beruntung, penduduk Desa Done kemudian merespon tawaran Elias, yang diikuti warga dari dua desa lainnya. Elias memberikan bibit jarak dan pupuk secara cuma-cuma alias gratis. Tidak cuma itu, ia juga memberikan bimbingan tentang cara menanam jarak.
Bibit jarak di tanam di lahan milik pemerintah yang diberikan hak gunanya kepada warga desa, lahan adat milik bangsawan dengan pemberian upeti sebagai balas jasa atas hak guna, dan lahan milik pribadi. "Kami memberikan bagi hasil sebesar 10% dari keuntungan untuk petani, sesuai dengan luas lahannya," ujar Elias.
Menurut Elias, minyak jarak yang berasal dari biji jarak kering dapat dimanfaatkan sebagai bioenergi. "Terutama untuk bahan bakar mesin diesel sebagai pengganti solar," jelasnya.
Setiap 4 kg biji jarak kering dapat menghasilkan 1 liter minyak jarak. Harga biji jarak kering sebesar Rp 1.500 per kg. Berarti 1 liter minyak jarak dibanderol dengan harga Rp 6.000. "Kendala memasarkan minyak jarak adalah harganya yang masih lebih mahal dibandingkan dengan solar bersubsidi yang Rp 4.500 seliter," kata Elias.
Tapi, minyak jarak lebih ramah lingkungan. Untuk penggunaannya, minyak jarak dicampur etanol dengan komposisi 90:10, agar tidak terlalu kental. "Minyak jarak berfungsi sebagai sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan karena bebas sulfur," ujarnya.
Beberapa perusahaan pelat merah, seperti PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Pertamina sudah menggunakan energi alternatif ini. "Perusahaan-perusahaan tersebut membeli minyak jarak seharga Rp 6.500 per liter dari saya," kata Elias.
Sebetulnya, ia juga berencana mengekspor minyak jarak produksinya. Namun, "Kebanyakan perusahaan asing hanya mau membeli dengan harga Rp 4.000 per liter. Terpaksa saya tolak," ujar Elias.
Ke depan, Elias bakal memanfaatkan minyak jarak sebagai bahan campuran bahan bakar pesawat atawa avtur, dengan perbandingan 50:50. Pasalnya, "Air New Zealand sudah menerapkan bahan bakar ini," kata penulis buku Reinventing Indigenous Knowledge – The Indonesian Integrated Pest Management Farmers Experiences from Traditional to Eco-Agriculture ini.
Namun, dalam jangka pendek, Elias akan mengembangkan komoditas lain. Bila tak ada aral melintang, akhir bulan ini, ia akan membudidayakan lebah madu dan menanam jati emas.
Lebah madu juga berfungsi sebagai penyerbuk (polinasi) untuk meningkatkan produktivitas buah jarak dan mengurangi kerontokan bunga. "Diharapkan komoditas baru ini akan lebih meningkatkan pendapatan para petani," kata dia.
Para petani yang kini menjadi mitranya, dulu hanya menanam tanaman pangan, seperti jagung, ketela, ubi, dan kacang-kacangan, untuk konsumsi pribadi alias berpenghasilan nol. Kini, dengan program penanaman jarak dan jati emas ditambah budidaya lebah madu, petani di Kabupaten Sika, Nusa Tenggara Timur, memperoleh keuntungan lebih besar lagi. "Proyeksi keuntungan bersih untuk tiap petani per bulannya mencapai Rp 1,2 juta setiap satu hektare lahan," kata Elias yang bergelar doktor dari University of Massachusetts, Amerika Serikat.
Ia juga berencana membudidayakan tanaman akar wangi di Flores. Tanaman ini juga berfungsi sebagai penahan air. Adapun minyaknya dapat diolah menjadi minyak atsiri. Harga per kilogramnya bisa US$ 350. "Akan saya realisasikan tahun depan," ujar pria berdarah Flores-Betawai ini.
Yuri membudidayakan landak laut bersama nelayan

Di tangan Yuri Pratama, landak laut yang biasanya menjadi "sampah" di perairan luas, justru menjadi komoditas dagang yang bernilai tinggi. Bersama nelayan Pulau Tidung, ia mendirikan Koperasi Urchindonesia yang fokus membudidayakan landak laut untuk diambil telurnya. Lalu, dipasarkan ke sejumlah restoran Jepang, supermarket, dan perusahaan farmasi.
Sea Urchin atau populer dengan sebutan landak laut atau bulu babi, adalah binatang laut yang 95% tubuhnya terdiri dari duri-duri. Landak laut bisa ditemui di banyak pantai di Indonesia. Bagi yang belum pernah melihat landak laut, spesies ini berbentuk bulat dengan duri berkelir hitam setinggi 3 centimeter (cm) hingga 10 cm ini.
Landak laut menjadi musuh manusia. Sebab, duri landak laut mengandung racun sehingga cukup berbahaya kalau menancap di tubuh kita. Makanya, nelayan Bali, misalnya, secara rutin membersihkan landak laut yang senang bermukim di sekitar pantai. Kemudian, dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar.
Namun, tidak semua orang menganggap landak laut sebagai musuh. Setidaknya, bagi Yuri Pratama. Pria berusia 26 tahun ini justru membudidayakan landak laut. Di mata Yuri, landak laut memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. "Landak laut dapat digolongkan sebagai zero waste product, karena hampir semua bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi produk bermanfaat," katanya.
Contoh, telur landak laut yang dapat langsung dikonsumsi. Cangkangnya, bisa dijadikan sebagai bahan baku kerajinan tangan atau diolah menjadi tepung untuk bahan pakan ternak. Adapun usus landak laut, dapat disulap menjadi pupuk organik.
Yuri mulai membudidayakan landak laut untuk diambil telurnya pada pertengahan 2009 lalu di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Ia tidak bekerja sendiri, melainkan menggandeng para nelayan setempat. "Sejak awal, niat saya memang memberdayakan nelayan agar mereka punya penghasilan tambahan," ungkap Yuri.
Untuk mewadahi kegiatan budidaya landak laut itu, Yuri mendirikan Koperasi Urchindonesia. Saat itu, baru 12 nelayan Pulau Tidung yang bergabung. Sebenarnya, jumlah pencari ikan di pulau tersebut lebih dari 37 orang. Tapi, kebanyakan nelayan masih ogah terlibat lantaran waktu itu belum ada bukti bahwa budidaya landak laut bisa menghasilkan uang.
Yuri dan 12 nelayan yang tergabung dalam Koperasi Urchindonesia kemudian membuktikannya, dengan menghasilkan 85 kilogram (kg) telur landak laut dalam sekali panen. Telur itu lalu dipasarkan ke sejumlah restoran Jepang, supermarket, dan perusahaan farmasi yang ada di Semarang. Biasanya, telur landak laut dibuat suplemen untuk menambah vitalitas pria.
Setiap kilogram telur landak laut dijual dengan harga bervariasi. Ke restoran Jepang, Yuri melego telur landak laut seharga Rp 180.000 per kg. Harga jual ke supermarket lebih tinggi lagi, yakni Rp 200.000 per kg. Adapun, kalau dijual ke perusahaan farmasi, hanya laku Rp 150.000 per kg.
Jika dihitung rata-rata, penjualan telur hasil budidaya Yuri dan para nelayan, bisa menghasilkan pendapatan sekitar Rp 16 juta sekali panen. "Sekarang ini, baru telurnya saja yang kami manfaatkan," katanya.
Saat ini, Yuri bilang, budidaya landak laut masih tahap pengembangan. Sebab, masih kerap terjadi kesalahan dalam budidaya tersebut. Makanya, hasil telur yang dipanen belum maksimal. Untuk itu, Yuri tengah melakukan pembenahan budidaya landak laut bersama para nelayan.
Selain itu, ia berencana mendirikan fasilitas pembenihan landak laut. Maklum, selama ini, Yuri mendapatkan benih hewan ini dari laut. Memang, ketersediaan landak laut masih sangat melimpah. Cuma, jika terus diambil, bisa merusak ekosistem di laut. Soalnya, kendati landak laut tergolong sampah laut, tetapi keberadaannya cukup berperan bagi terumbu karang.
Dengan adanya fasilitas pembenihan, Yuri berharap masa panen telur landak laut tidak perlu lagi menunggu waktu terlalu lama. Pasalnya, saat ini, masa panen landak laut masih membutuhkan tempo sekitar enam bulan.
Rencananya, Yuri akan mendirikan fasilitas pembenihan dengan kapasitas 1.000 ekor yang menelan dana sekitar Rp 20 juta.
Yuri berharap, setelah fasilitas pembenihan tersedia berdiri, kapasitas produksi telur landak laut bisa meningkat. Dengan begitu, keinginannya untuk dapat mengekspor telur landak laut bisa tercapai.
Menurut Yuri, pasar ekspor telur landak laut cukup menggiurkan. Di sejumlah negara Asia Tenggara, telur landak laut bisa laku hingga US$ 30 per kg. Bahkan, di pasar Jepang, harganya berkali-kali lipat, menjadi US$ 300-US$ 400 per kg. "Di sana telur landak laut sudah menjadi makanan khas. Bahkan di Filipina, sudah menjadi makanan kaleng seperti sarden," ujar alumni Universitas Indonesia jurusan Sosial Politik yang baru lulus pada 2007 lalu.
Dalam memasarkan telur landak laut, Yuri langsung menjualnya ke pembeli akhir, sehingga para nelayan bisa mendapatkan hasil jual yang maksimal. Selama ini, para nelayan selalu mendapatkan margin kecil dari setiap hasil jual tangkapannya di laut. Itu karena mereka menjual ikannya kepada para pengepul.
Nah, "Saya ingin memutus rantai distribusi seperti itu. Kami menjual langsung ke pembeli akhir, sehingga nelayan bisa meraih nilai jual maksimal. Begitu juga nanti kalau ekspor," kata Yuri.
Harapan Yuri lainnya, suatu saat budidaya landak laut di Pulau Tidung bisa dikembangkan ke daerah lainnya di Indonesia. Juga dengan model usaha yang sama, yaitu memberdayakan nelayan setempat. Sehingga nelayan memiliki tambahan sumber penghasilan.
sumber http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1288940163/51605/Yuri-membudidayakan-landak-laut-bersama-nelayan
Juananda, anak profesor yang sukses berbisnis alas laptop

Ide kreatif dan jeli melihat peluang menjadi kunci sukses Juananda Sutan Assin mengembangkan bisnis bantalan laptop yang ia beri merek lapTopper. Produknya yang unik dan inovatif mampu menghasilkan omzet lebih dari
Rp 200 juta sebulan.
Sukses tak bisa dicapai hanya dengan jeli melihat peluang pasar. Kreatif dan inovatif menemukan hal baru yang sesuai dengan arah minat pasar di masa juga sangat penting. Juananda Sutan Assin atau biasa dipanggil Nana sudah membuktikannya.
Sejak empat tahun silam, perempuan kelahiran 11 Agustus 1960 ini sudah bisa memprediksi bahwa penggunaan laptop akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Atas dasar prediksi tren itu, Nana menuangkan ide untuk membuat bantalan laptop yang kini dikenal dengan merek lapTopper. Kebutuhan produk ini terus meningkat seiring pertumbuhan penjualan komputer jinjing atawa notebook.
Tidak banyak yang tahu, ide Nana membuat bantalan laptop itu bermula dari anaknya. Si anak kerap memangku laptop di atas paha. Ia sendiri selalu memangku laptop dengan alas buku jika berada di tempat tidur. “Saya berpikir untuk menciptakan alas laptop yang trendi dan nyaman,” ujarnya.
Di tahun 2007, melalui bendera PT Juara Radya Kencana, Nana mulai mencoba membuat bantalan untuk alas laptop. Idenya, ia ingin membuat bantal penahan supaya laptop bisa kita pangku dengan nyaman.
Dengan modal tabungan sebanyak Rp 20 juta, Nana mulai membangun usaha alas laptop yang kemudian dinamai lapTopper. Saat ini, lapTopper lazim digunakan oleh beragam kalangan sebagai alas laptop. Bentuknya yang trendi membuat lapTopper banyak diminati.
Selain dijual di pasar lokal, kini, putri almarhum Profesor Sutan Assin, guru besar endokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ini juga mengekspor produknya ke Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Swedia, Prancis, Spanyol, dan Australia.
Lahir dalam keluarga yang mengutamakan pendidikan, Nana terbiasa belajar dan bekerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Di tahun 1976 hingga 1979, ia dan saudara kembarnya, Lilian Sutan Assin, menempuh pendidikan SMA di Belgia. Selulus SMA, ia hijrah ke Amerika Serikat, berkuliah di jurusan akuntansi Connecticut State University.
Sejatinya, istri Ramelan Kosasih ini sangat menyukai hal-hal yang berkait dengan matematika. Ia juga menyukai dunia desain interior. Sayang, ketika hendak memilih jurusan ini, ia harus kecewa lantaran tak ada matematika dalam mata kuliahnya. Ia lantas memilih akuntansi sebagai jurusan kuliah utamanya.
Lulus kuliah di tahun 1984, Nana bekerja sebagai konsultan di PriceWaterhouse Coopers (PwC). Ia bertahan selama tiga tahun sebelum menjajal karier barunya di dunia perbankan. Ia bertahan hingga lima tahun sebelum membeli waralaba di bisnis food and beverages di Waterbom, Bali. Sayang, bisnisnya hanya bertahan lima tahun, sampai kontrak selesai.
Di 2007, ketika bisnisnya meredup, Nana mulai melihat peluang berbisnis alas laptop. Ia lantas memutar modal. Ibu tiga anak ini menggunakan modal Rp 20 juta untuk membeli mesin jahit. Selanjutnya, ia merekrut dua tukang jahit untuk mengerjakan desain bantalan. Sisa uang ia pakai buat membeli material seperti kayu, busa, dan kain pelapis.
Bentuk yang menarik
Ide produk alas laptop ini sebenarnya tidak murni dari Nana. Ia pernah melihat alas laptop serupa ketika berkuliah di Amerika Serikat (AS). Hanya, bantalan laptop yang ia lihat tersebut menggunakan bahan baku plastik.
Nana lantas mencoba berinovasi dengan menggunakan butiran styrofoam sebagai isian bantal alas laptopnya. Awalnya tidak mudah. Ia harus mencoba dengan pelbagai desain sampai tiga bulan lamanya. “Saya bolak-balik mengubah desain lebih dari 10 kali,” akunya.
Setelah yakin dengan desain terbaiknya, Nana membawa 50 lapTopper untuk dipamerkan di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan. Dari sini, pesanan mulai berdatangan. Ia tak menyangka, animo masyarakat sangat tinggi. Nana sempat kewalahan memenuhi permintaan.
Di pasar, lapTopper sangat mudah dikenali lantaran bahan katunnya berkualitas bagus. Bentuknya juga unik lantaran menyerupai huruf U yang pas ditaruh di pinggang. Bentuk dan motif kayunya macam-macam, malah ada kipas yang membantu sirkulasi udara laptop.
Saat ini, lapTopper tersedia dalam tiga ukuran yakni S (40 cm x 30 cm) yang dijual seharga Rp 195.000, ukuran M (40 cm x 50 cm) dengan harga Rp 235.000, dan ukuran L (40 cm x 60 cm) yang dijual dengan harga Rp 285.000 per unit.
Produk ini bisa dijumpai di gerai-gerai penjual laptop seperti eStore Apple, EMAX, Office2000. LapTopper juga mempunyai reseller di Malaysia, Brunei, dan Singapura.
Kini, Nana mampu memproduksi hampir 2.000 unit lapTopper tiap bulan. Omzet usahanya mencapai lebih dari Rp 200 juta per bulan. Melihat harga laptop yang sudah mencapai Rp 4 jutaan per unit, Nana yakin, aksesori laptop seperti produknya akan tetap diminati.
sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1294806016/56223/Juananda-anak-profesor-yang-sukses-berbisnis-alas-laptop
Langgan:
Entri (Atom)