Minggu, 28 Maret 2010

Project LKM (Lembaga Keua

Rekan2 PIYE..walau jarang update, sekarang ini saya sedang persiapkan untuk membentuk LKM (Lembaga Keuangan Mikro) yang pastinya adalah bergerak di bidang micro credit/financing dan micro saving. Memang masih dalam wacana, tapi di Indonesia, masih sedikit LKM yang ada dan hanya menjangkau tempat2 tertentu saja...itupun berupa program community development dari beberapa perusahaan yang peduli dengan "poverty".

Saya dari dulu terinspirasi dengan bagaimana mewujudkan pemerataan pendapatan, keadilan ekonomi dan penumpasan kemiskinan. Ini adalah salah satu dari minor set back yang harus dihilangkan untuk mweujudkan Indonesia maju. Salah satu inspirasi saya adalah Grameen Bank.

http://www.grameenfoundation.org/

http://www.grameen-info.org/
Di Indonesia sendiri, memang LKM sudah ada, tidak bisa dibilang banyak, dan masih jauh dari yang dibutuhkan. Banyak artikel, riset, buku dan pada prakteknya dapat ditemukan LKM berbentuk koperasi (karena memang belum ada UU yang mengatur, sementara LKM bukanlah BPR) justru hal ini mempermudah dan sesuai dengan azas ekoonomi Indonesia, yakni koperasi.

Membangun LKM sendiri bukan pekerjaan mudah, membutuhkan banyak effort tidak hanya secara material namun juga konsistensi dan kontribusi dari berbagai pihak. Inilah yang membuat saya sering kehabisan waktu akhir2 ini karena menemukan rekan untuk mendirikan koperasi tidaklah gampang.

Secara material, modal awal LKM sendiri membutuhkan kurang lebih Rp 300-500 juta, ini bukanlah jumlah yang sedikit untuk ukuran Koperasi Simpan Pinjam.Masih membutuhkan peran serta investor baik individual atau institusi.

Sebagai Strategic Advisor, saya memiliki cukup akses kepada para petinggi dan investor, namun sekarang ini yang menjadi kendala adalah waktu yang saya butuhkan untuk mempersiapkan proposal dan presentasi. Bagaimanapun juga, walau misalkan ada dana dari investor yang dianggap sebagai hibah, tetap perlu dipertanggung jawabkan. Business plan dan rencana kerja koperasi ini sendiri juga belum saya matangkan.

Beberapa minggu ini, saya hanya sempat mutar sana-sini untuk mencari tahu lebih banyak bagaimana LKM ini dan bagaimana prospeknya serta yang paling penting adalah mempersiapkan productnya apa dan bagaimana operasinya di kemudian hari.

Doakan saja agar rencana ini bisa berhasil dan salah satu target PIYE adalah membangun satu LKM yang produktif dan dapat memberi kontribusi bagi masyarakat secara financial aid di 2010.

Semoga saya ada sedikit waktu luang untuk menulis lebih banyak lagi ide dan progress dari Project LKM PIYE ini.

Bagi teman2 yang ingin bergabung atau membantu Project LKM ini dari segi apapun, silahkan, saya sangat berterima kasih. Silahkan email ke piye.lkm@gmail.com

salam.

Selasa, 23 Maret 2010

RX 420 & CN 235 MV


RX 420 adalah nama roket yang pada waktu lalu sempat dites/luncurkan oleh Lapan. Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor.

Sementara, CN 235 MV adalah nama pesawat produksi dalam negeri yang dibuat versi militernya.Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam

Nah, sudah clear kan? Bahwa anak bangsa pun mampu membuat benda2 canggih yang tidak kalah keren dengan senjata2 Amerika dan Eropa.

Memang ada kendala dari segi pemerintahan (apalagi yang korup) karena lebih ingin mengimpor dan tidak mendukung pengembangan teknologi dalam negeri. Ini yang menjadi musuh kita.

Seharusnya pemerintah kita sadar bahwa sudah saatnya kita bangkit secara teknologi dan industrial. Masalah utama dari para ilmuwan Indonesia adalah kurangnya daya saing, pengetahuan tentang ekonomi dan pemasaran dan terutama masalah pembiayaan. Dibutuhkan investor dan pengusaha yang berani dan percaya pada produk Indonesia. Saya gak ngomong batik dan tempe lho...ini saya ngomong rudal yang mana bisa kita gunakan demi telco industry, dsb dsb.

Bila ada teman2 kita, yang memang pintar dan punya kapasitas lebih, dukunglah. Kita wujudkan Indonesia yang melek teknologi dan riset, juga maju secara ekonomi. Dukung #goIndonesia!